Hati-hati dengan Atribusi

Image

Joe dan Rani baru berkenalan tiga bulan yang lalu. Tepatnya lewat media sosial facebook. Joe yang sedang mencari pacar baru untuk dijadikan calon istri, tertarik melihat foto Rani yang kelihatan manis dan ramah.

Hari ini Joe memutuskan untuk kopi darat dengan Rani. Karena mereka tinggal sekota, segalanya jadi lebih mudah. Mereka akhirnya kencan di sebuah mal. Saat sedang asyik makan, pelayan mengantar minuman pesanan Joe. Tiba-tiba tanpa sengaja pelayan tersebut menumpahkan minuman pesanan Joe tepat di baju Rani. Tak ayal lagi Rani langsung berteriak memaki-maki pelayan itu. Sekitar lima belas menit Rani tak berhenti mengoceh walaupun si pelayan sudah berkali-kali minta maaf. Joe pun kelabakan menenangkan Rani. Sampai akhirnya datang manajer kafe menyelesaikan permasalahan mereka.

Setelah kencan pertama itu Joe mulai berpikir mengapa Rani sedemikian cerewetnya? Apa dia bisa tahan dengan sifat Rani yang seperti itu. Joe pun curhat pada sahabatnya Dea, seorang psikolog. Setelah obrolan dengan Dea, joe berusaha kembali menghubungi Rani. Ternyata Joe baru tahu Rani sedang stres karena skripsinya tak kunjung selesai.Padahal sudah dua tahun ini dia mengerjakannya.

Apa yang menjadi kesimpulan Joe tentang prilaku Rani disebut atribusi. Dalam teori atribusi terdapat dua kategori yaitu atribusi situasional dan atribusi disposisional. Atribusi situasional merupakan penjelasan yang kita buat mengenai prilaku kita maupun prilaku orang lain berdasarkan lingkungan atau situasi. Dalam kasus diatas anggapan Joe bahwa Rani cerewet lantaran sedang stres merupakan contoh atribusi situasional. Sedangkan jika Joe menganggap Rani tak kunjung berhenti mengoceh karena dia memang seorang cewek judes dan cerewet adalah contoh dari atribusi disposisional.

So.., jika Anda ingin merasakan hidup ini indah, dan keburukan-keburukan orang yang Anda sayangi bukanlah hal yang permanen, belajarlah untuk memakai atribusi situasional dalam perjalanan hidup Anda, dalam berhubungan dengan manusia lainnya. Komunikasikan hal-hal yang tidak Anda sukai dengan cara yang hangat kepada orang yang Anda sayangi..

Referensi: W Carol, T Carol, 2007

Wanita Lebih Tertarik Pada Pria Nakal

Pria tampan yang alim, mapan, biasanya jadi idaman banyak wanita. Namun, tak dapat dipungkiri, “pria nakal” juga menjadi tantangan tersendiri buat wanita untuk menjadi penakluknya dan berharap si Dia akan berubah setelah bersamanya.

Kenapa ini bisa terjadi?

1. Tampil apa adanya. Wanita selalu menganggap pria baik yang mereka temui, terlalu baik untuk mereka. Pria tersebut terlalu sibuk bersikap baik daripada bersikap apa adanya. Dan secara naluriah wanita tidak percaya hal tersebut. Sedangkan bagi wanita, pria ‘nakal’ adalah orang yang selalu tampil apa adanya.

2. Terlalu mudah dikontrol

Pria baik-baik tidak akan menetapkan batas-batas atau tuntutan untuk seorang wanita. Sedangkan, wanita akan merasa tertantang untuk mengontrol pria yang sulit untuk ditaklukan. Dan hal tersebut tidak terdapat pada pria baik-baik. Intinya wanita tidak akan menghargai seorang pria yang dengan mudah dia kontrol.

3. Terlalu mudah ditebak

Dalam sebuah hubungan, terlalu mudah menebak pasangan adalah salah satu munculnya rasa bosan. Jadi, wanita selalu berusaha mencari perhatian pria yang menarik dan sulit untuk ditebak. Pria baik bukanlah sebuah tantangan. Mudah diprediksi, tidak ada ketertarikan, tidak ada tantangan adalah ciri pria yang tidak akan dilirik wanita.

4. Sifat dasar wanita

Wanita dirancang untuk selalu mengasihi. Namun, mereka lebih memilih  melakukannya pada pria ‘nakal’ karena mereka berpikir cinta akan menyelamatkan dan memperbaiki kenakalan pria. Sedangkan, pria baik-baik tidak perlu diselamatkan dan tidak perlu diperbaiki. Wanita juga selalu berpikir bahwa jika mereka dapat membuat pria sempurna, pria tersebut tidak akan meninggalkan mereka.

5. Memilih benih yang kuat

Wanita dirancang untuk berkembang biak dengan gen yang paling kuat. Tanpa disadari, pria nakal mampu mengirimkan pesan bahwa mereka memiliki benih sperma dan gen yang kuat. Sedangkan pria baik tidak mampu mengirimkan pesan tersebut terhadap wanita.

6. Bagi wanita yang takut komitmen

Wanita yang takut akan komitmen lebih memilih berhubungan dengan pria ‘nakal’. Seorang pria yang baik akan sangat menginginkan komitmen dan bagi tipikal wanita seperti ini, hal tersebut adalah sangat menakutkan.

7. Kepercayaan diri rendah

Wanita atau bahkan siapapun di dunia ini tidak akan bertahan dengan orang yang memiliki kepercayaan diri rendah. Dan biasanya hal ini dimiliki oleh pria baik-baik.

8. Seks

Wanita selalu berpikir pria baik tidak akan hebat di atas tempat tidur. Terkadang mereka memimpikan dikuasai oleh pria, sedangkan mereka berpikir pria baik tidak dapat melakukan hal tersebut. Selain itu, pria baik tidak dapat terlihat menarik karena mereka tidak mampu menampilkan sex appeal mereka di hadapan wanita.

9. Tidak memesona

Pria baik terkadang tidak dapat menampilkan diri mereka dengan baik di hadapan wanita. Sedangkan, pria ‘nakal’ dapat lebih memesona dan tahu persis apa yang ingin wanita dengar. Namun terkadang, jika wanita tidak dapat menaklukan hati pria nakal tersebut, mereka justru akan patah hati karenanya.

10. Wanita butuh perlindungan

Secara naluriah, pria seharusnya dapat selalu melindungi pria. Namun, wanita sering kali ragu bahwa pria baik-baik dapat memberikan mereka perlindungan. Pada akhirnya mereka akan lebih memilih pria nakal sampai mereka menyadari bahwa sifat buruknya lebih banyak dari pada sifat baiknya.

Sumber: http://vivanews.com

Pindah Kerja?

Telah enam bulan lamanya Sinta bekerja di kantornya yang sekarang. Namun dia tak kunjung bisa menikmati suasana kantor dan kerjaannya. Sinta mulai bimbang mau mengundurkan diri saja atau bertahan dengan keadaan yang membuat produktivitasnya lemah.

Yang dialami Sinta, dialami juga oleh banyak orang. Sebelum memutuskan untuk pindah kerja, sebaiknya Anda pertimbangkan dulu hal-hal berikut:

  • Cari tahu antusiasme dalam bekerja

Sadari minat dan motivasi utama dalam bekerja. Ini akan menjadi dasar untuk berburu pekerjaan maupun karier baru yang cocok. Fokus pada pekerjaan atau kegiatan kerja tertentu yang kita suka. Catat apapun yang terlintas di benak, yang memang senang kita kerjakan. Seperti pekerjaan yang berkaitan dengan komunikasi, promosi, atau mengulik komputer, atau berkaitan dengan administrasi dan klasifikasi, atau berkaitan dengan perjalanan, dan sebagainya.

  • . Peka dengan pertanda yang ada di sekitar

Misalnya, proyek apa saja yang membuat kita begitu antusias mengerjakannya. Perhatikan pula kapan kita merasa sangat menikmati pekerjaan. Ini adalah tanda-tanda yang menunjukkan pekerjaan itu cocok dengan kita. Selanjutnya, kita bisa menelusuri ragam peluang kerja dan karier yang lebih spesifik dan cocok dengan pilihan.

  • Pertimbangkan aktual

Ini dikaitkan dengan yang dibutuhkan di pekerjaan yang ingin diperoleh tersebut tidak melulu berkaitan langsung dengan teknis kerja saat ini. Bisa juga berkaitan dengan hobi kegiatan organisasi yang mungkin pernah diikuti. Atau kita bisa memelajari hal baru yang sesuai dengan pekerjaan yang diimpikan, melalui kursus bersertifikasi.

Ingat, mencari pekerjaan dan karier yang cocok membutuhkan waktu. Perluas networking. Bila perlu, ikuti karier maupun konseling karier, cari tempat kerja dengan iklim dan peraturan yang selaras dengan harapan. Bersikaplah lebih aktif saat wawancara dengan pihak perusahaan. Dengan demikian, kita mendapatkan gambaran lebih lengkap mengenai profil perusahaan dan profil orang-orang yang akan bekerja sama.

Selamat melakukan riset sebelum mengambil keputusan final atau sanksi tertentu. Tindakan apa yang perlu Anda lakukan sebagai antisipasi? Konsultasikan hal ini pada pihak berwenang dan capable, agar Anda mendapatkan gambaran sebelum membuat keputusan final.

Sumber: http://female.kompas.com

Penyebab Keterlambatan Bicara Pada Anak

Anak usia 1-3 tahun, berbeda-beda kemampuan berbicaranya. Ada yang baru umur satu tahun sudah bisa manggil ‘papa’ dan ‘mama’ dengan jelas. Ada juga yang sudah 2 tahun belum bisa sepatah kata pun.

Menurut dr. I Gusti Ayu Partiwi Surjadi SpA. MARS, memang ada kasus keterlambatan bicara yang bersifat genetik, yang memang boleh ditunggu. ”Tetapi kita mesti benar-benar yakin bahwa keterlambatan itu benar-benar genetik dan boleh ditunggu, ”Kata dokter Tiwi. Untuk mengetahui apakah kemampuan bicara bayi akan berkembang normal, antara lain dapat dideteksi melalui pendengarannya. “Yakinkan bahwa pendengaran bayi normal karena pendengaran yang baik merupakan salah satu persyaratan untuk bicara,” Tiwi menambahkan. Fungsi pendengaran dapat dinilai dengan melakukan screening pendengaran bahkan sejak bayi baru lahir. Respon bayi terhadap lonceng atau suara merupakan petanda pendengaran bahwa fungsi pendengran bayi baik.

Penyebab terlambat bicara menurut Tiwi, ada yang bersifat sentral (gangguan pada otak), ada yang karena penyebab perifir (alat pendengaran yang terganggu), tetapi bisa juga karena bersifat genetik (masalah keturunan). ”Anak autis seringkali memberikan manifestasi awal terlambat bicara,” ujarnya. Orang tua sering membawa anak dengan gangguan perkembangan pervasive development disorder not other specified (PDD NOS) yang sering disebut sebagai autisme ke dokter atau ahli perkembangan karena anak belum bisa bicara. Sementara penyebab autisme sampai saat ini belum diketahui secara pasti.

Kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia balita juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab anak mengalami gangguan keterlambatan bicara, Terlalu banyak menonton TV,  merupakan faktor yang membuat anak menjadi pendengar pasif. ”Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang sering kali tidak dimengerti oleh anak, bahkan mungkin traumatis,” urai  psikolog Jacinta  F Rini panjang lebar. Pengalaman traumatis bisa akibat menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual atau pun acara yang tidak disangka-sangka memberi kesan yang mendalam pada anak, karena egosentrisme yang kuat pada anak dan kemampuan kognitif yang masih belum berkembang.

Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua menurut Jacinta, juga memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang sangat baik. ”Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak ikut berperan dalam menambah pembendaharan kata, memacu untuk berpikir logis, menganalisis dan membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun,” jelasnya.

”Anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan ”memasukkan” segala intruksi, pandangan atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara serta menggunakan kalimat dan berbahasa,” katanya lagi.

Sumber: http://www.ibudanbalita.com

Rahasia Pria Berstatus Menikah

Menurut Scott  Haltzman, M.D , sorang  psikiater dari Rhode Island,  Amerika, pria menikah berada dalam posisi yang kurang beruntung dalam hubungan. Baik secara verbal maupun emosional. Pria menikah mengalami gangguan dalam mengungkapkan perasaannya. Sehingga sering terjadi kesalahpahaman dengan istrinya.

Kehidupan pernikahan kadang  berjalan mulus dan kadang sebaliknya. Dan pria biasanya punya cara tersendiri dalam memelihara hubungan pernikahannya. Tak ada cara baku.

Haltzman juga  berpendapat pria menikah menghasilkan lebih banyak uang, pikiran yang lebih tenang dan kehidupan seks yang lebih baik, kesehatan juga lebih baik dibandingkan pria yang mengalami perceraian.

Pada usia 45 tahunan dua dari lima pria melakukan perselingkuhan. Alasannya bukanlah seks, tetapi mencari kehangatan, pengakuan akan kelelakiannya (merasa hebat kali ya..kalau bisa dapetin pacar lagi, hiks..hiks), dan cinta tentu saja.

Buat para wanita, sang istri, harus bijaksana memahami kekurangan-kekurangan suaminya supaya biduk rumah tangga bisa berlayar dengan perkasa walau badai menghadang..!

Sumber: http://www.psychologytoday.com

Melepaskan Diri Dari Kecanduan Cinta

“Aku kecewa sekali sama Lucky mbak.., tapi aku ga pernah bisa melupakan dia.., aku ga bisa hidup  tanpa dia..!”.

Nisa menangis terisak-isak kepada sahabatnya menceritakan betapa dia tak sanggup jika berpisah dari Lucky kekasihnya. Namun dia juga tak tahan dengan kelakuan lucky yang selalu memanfaatkan dirinya tapi tak pernah menghargai pengorbanannya.

Nisa akan gelisah, lesu, dan kehilangan nafsu makan jika tak ada Lucky di dekatnya. Apalagi  jika dia menyaksikan Lucky bercengkerama dengan teman perempuannya  atau mendapati sms mesra di handphone Lucky dari perempuan lain.

Tentu saja hal ini mempengaruhi produktivitas Nisa. Kuliahnya jadi terbengkalai. Tugas-tugas dari dosen tak bisa dikerjakan degan baik.

Ya, Nisa sedang mengalami ketergantungan cinta. Ga bisa ngapa-ngapain tanpa cinta.. Kasihan sekali ya..?

Beberapa langkah yang  harus dilakukan untuk mangatasi hal ini:

  • Coba dipikir-pikir lagi untuk apa sih sebegitunya sama si dia?
  • Menyadari bahwa cinta itu seharusnya sama-sama dapat meningkatkan kualitas diri masing-masing pasangan, bukannya malah  menurunkan semangat hidup.
  • Mulailah lebih mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Melakukan segala sesuatu untuk dinikmati bukan karena orang lain. Dan terus menggali potensi diri dan menghargai kekurangan diri sebagai bagian yang tetap berharga.
  • Menjalin pertemanan dan persahabatan dengan banyak orang yang peduli dengan anda dan mungkin memiliki kesamaan hobi dan minat. Sehingga  hidup bakal terasa lebih indah.
  • Jika anda masih saja memiliki ketergantungan yang sangat besar dengan si dia, mungkin Anda harus segera ke psikolog.

Anda tak harus putus cinta dengan si dia. Tapi Anda hanya harus lebih mencintai diri sendiri dulu supaya mencintai itu tak terasa menyakitkan.

Lakukanlah hal-hal yang Anda sukai, yang membuat Anda merasa lebih berharga. Lambat-laun perasaan tak bisa hidup tanpa dia akan sirna..!

Sumber:  http://www.selfhelpmagazine.com